Awaluddin Berharap Kabar Keponakan

Palu: Awaluddin termenung melihat ekskavator menggali reruntuhan puing bangunan di Bala Roa, Palu, Sulawesi Tengah. Beberapa kali Medcom.id mencoba menyapa, dia baru menengok di kali kelima.

Mata Awaluddin, 48, nanar. Raut wajah letih tak bisa ditutupi masker yang dia kenakan. 

“Masih menunggu keponakan saya. Bapaknya itu di dekat ekskavator,” kata Awaluddin menunjuk salah satu ekskavator¬† yang sedang membongkar reruntuhan musala, Selasa, 2 Oktober 2018.

Keponakannya, Rahmatia, 24, tinggal di dekat musala yang tengah dibongkar. Hatinya dan orang tua Rahmatia sungguh tak tenang.

Baca: Korban Bencana Sulteng Tembus 1.234 Jiwa

“Dia menelepon. Dia bilang ada gempa besar. Sementara berbicara, langsung mati,” kata dia.

Awaluddin menyebut kejadian ini membuatnya dan keluarga syok. Dia dan keluarga langsung berangkat dari Poso.


(Awaluddin, warga yang mencari kerabatnya yang menjadi korban bencana di Palu, Selasa 2 Oktober 2018, Medcom.id – Surya Perkasa)

Rahmatia baru saja menikah dan baru setahun tinggal di Palu. Rahmatia bekerja sebagai suster di salah satu rumah sakit di Kota Palu. Dia hanya berharap bisa segera menemukan sang keponakan.

Hingga berita ini dimuat, BNPB mendata jumlah korban tewas mencapai 1.234 jiwa. Korban tewas ditemukan di Kabupaten Palu, Singgih, Parigi Moutong, dan Donggala.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan korban meninggal lantaran tertimpa reruntuhan bangunan dan terjangan tsunami. Hari ini, kata Sutopo, korban tewas akan dimakamkan secara massal setelah diidentifikasi.

“Sementara jumlah korban luka berat 799 orang dirawat di rumah sakit, korban hilang 99 orang, dan jumlah pengungsi sebanyak 61.867. Pengungsi tersebut tersebar di 109 titik,” ujar Sutopo.

(RRN)